Pada 13 Agustus 2026, Badan Pusat Statistik bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman merilis Statistik Perumahan 2026. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut angka backlog kepemilikan rumah berada di 9,29 juta rumah tangga, turun 350 ribu dibanding posisi setahun sebelumnya yang tercatat 9,64 juta. Dalam persentase, turunnya dari 13 persen per Maret 2025 menjadi 12,39 persen per Maret 2026.
Rilis yang sama memuat angka kedua yang jauh lebih besar dan jauh lebih jarang dikutip: 18,01 juta rumah tangga, atau 24,03 persen, masih menempati hunian yang belum memenuhi kriteria layak. Angka itu juga turun, dari 25,33 persen setahun sebelumnya, setara sekitar 760 ribu rumah tangga.
Buat orang yang sedang membandingkan unit ready stock di Bekasi Utara, angka kedua itulah yang menggambarkan pasarnya.
Dua angka, dua hal yang berbeda
BPS memisahkan keduanya secara eksplisit, dan pemisahan itu yang sering hilang begitu angkanya masuk ke judul berita.
| Ukuran | Yang dihitung | Posisi Maret 2026 |
|---|---|---|
| Backlog kepemilikan | Rumah tangga yang belum menempati rumah milik sendiri | 9,29 juta rumah tangga (12,39%) |
| Backlog kualitas hunian | Rumah tangga yang sudah punya tempat tinggal, tetapi kondisinya belum layak | 18,01 juta rumah tangga (24,03%) |
Satu rumah tangga bisa keluar dari hitungan pertama dan tetap berada di hitungan kedua. Keluarga yang tahun lalu mengontrak lalu tahun ini membeli rumah kecil di gang sempit sudah tidak lagi masuk backlog kepemilikan, sementara rumahnya sendiri belum tentu lolos kriteria layak huni. Turunnya 350 ribu itu nyata, dan tetap menyisakan pekerjaan di kolom sebelahnya.
Kenapa turunnya backlog kepemilikan tidak langsung terasa di rentang Rp 700 jutaan
Rumah tangga yang dihitung di angka 9,29 juta sebagian besar berada di kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, dan jalur yang disiapkan negara untuk mereka adalah rumah subsidi dengan batas harga Rp 166 juta untuk wilayah Jawa, bunga 5 persen, dan kriteria luas yang sudah dipatok di Kepmen PKP 1722/2026.
Unit dua lantai seluas 70 m² di rentang Rp 700 jutaan berada di luar seluruh batas itu. Jadi ketika backlog kepemilikan turun 350 ribu, yang bergerak adalah pasar di bawah Rp 200 juta, bukan pasar rumah komersial di Bekasi Utara. Dua pasar ini memakai skema pembiayaan berbeda, bank penyalur berbeda, bahkan dokumen persyaratan yang berbeda.
Backlog adalah hitungan rumah tangga, bukan hitungan unit tersedia dan bukan sinyal harga. Angka yang turun tidak memberi tahu apa pun soal ke mana harga rumah di Jl. Raya Perjuangan akan bergerak semester depan.
Angka 18,01 juta itu profil calon pembeli rumah dua lantai
Kelompok 18,01 juta rumah tangga ini sudah memiliki tempat tinggal. Yang jadi masalah bukan kepemilikannya, melainkan kondisinya: luas lantai per orang yang sempit, ventilasi, akses air minum dan sanitasi, atau ketahanan bangunannya.
Nah, kelompok inilah yang secara perilaku paling mirip dengan orang yang datang ke marketing gallery menanyakan rumah dua lantai. Mereka tidak sedang mencari rumah pertama. Mereka sedang pindah dari rumah lama yang kamarnya kurang, dari rumah orang tua yang sudah penuh tiga generasi, atau dari kontrakan dua kamar yang anaknya sudah dua orang dan sebentar lagi tiga.
Kalau angka nasionalnya turun 760 ribu dalam setahun, itu tanda perpindahan semacam ini memang sedang terjadi dalam skala besar, dan sebagian dari perpindahan itu bermuara ke cluster-cluster di koridor Bekasi. Soalnya lokasi seperti Bekasi Utara memang jadi tujuan wajar: masih 5 menit ke Stasiun Bekasi untuk yang komuter KRL, 5 menit ke Summarecon Mall, dan harga per meternya belum setara Jakarta Timur.
Empat hal yang tidak dijawab data ini
Angka BPS berguna untuk melihat arah, dan berhenti di situ. Batasannya perlu ditulis terang supaya tidak dipakai melebihi kemampuannya:
- Skalanya nasional. Rilis ini tidak memuat potongan angka untuk Kota Bekasi, apalagi per kecamatan. Kondisi Bekasi Utara bisa berbeda arah dari rata-rata nasional.
- Ini potret Maret, bukan kondisi hari ini. Perbandingannya Maret 2025 ke Maret 2026. Apa yang terjadi April sampai Agustus belum masuk hitungan.
- Yang dihitung rumah tangga, bukan unit. Data ini tidak memberi tahu berapa unit ready stock yang tersedia di suatu koridor, dan tidak menggantikan cek stok langsung ke pengembang.
- Tidak ada informasi harga di dalamnya. Backlog turun bukan berarti harga naik atau turun. Untuk itu, indikator yang lebih dekat adalah survei harga properti residensial Bank Indonesia dan data penjualan primer per kuartal.
Yang lebih berguna dicek kalau Anda sedang menimbang unit
Data nasional sebaiknya diletakkan sebagai latar, lalu keputusannya dibangun dari angka yang benar-benar menyangkut Anda:
- Rasio cicilan terhadap penghasilan. Bank umumnya menahan total cicilan di kisaran sepertiga penghasilan bersih. Hitung dulu dari sisi ini sebelum menengok stok unit.
- Status unit dan legalitasnya. Ready stock atau indent, sertifikat induk sudah pecah atau baru terbit nomor identifikasi bidang, ada PBG dan SLF atau belum.
- Pasokan di koridornya, bukan di negaranya. Berapa unit tersisa di cluster yang Anda incar, dan berapa yang dilepas pengembang lain di radius yang sama. Pasokan rumah baru Bodetabek memberi gambaran yang jauh lebih dekat ketimbang backlog nasional.
- Biaya di sekitar akad. BPHTB, notaris atau PPAT, provisi dan administrasi bank, asuransi jiwa dan kebakaran. Pos-pos ini dibayar tunai di luar plafon KPR.
Rumah Emerald 70 di Kingspoint sendiri berdiri di angka yang gampang diverifikasi: luas tanah 47,25 m², luas bangunan 70 m², dimensi 4,5 m × 10,5 m, dua lantai, pondasi bor pile, dan harga Rp 700 jutaan sudah termasuk PPN. Cicilannya mulai Rp 5 juta per bulan, dan simulasi persisnya dihitung tim penjualan sesuai plafon yang disetujui bank — bukan lewat kalkulator otomatis yang angkanya sering meleset dari appraisal.
Pertanyaan yang sering muncul
Apa beda backlog kepemilikan dan backlog kualitas hunian?
Backlog kepemilikan menghitung rumah tangga yang belum menempati rumah milik sendiri, per Maret 2026 sebanyak 9,29 juta rumah tangga atau 12,39 persen. Backlog kualitas menghitung rumah tangga yang sudah punya tempat tinggal tetapi kondisinya belum layak, sebanyak 18,01 juta rumah tangga atau 24,03 persen. Satu rumah tangga bisa keluar dari hitungan pertama dan tetap masuk hitungan kedua.
Backlog turun, apakah harga rumah bakal naik?
Tidak ada hubungan langsung. Backlog menghitung rumah tangga, bukan unit yang tersedia, dan tidak memuat komponen harga sama sekali. Datanya juga nasional dan berupa potret Maret, sehingga tidak bisa dipakai memperkirakan pergerakan harga di satu kecamatan.
Angka mana yang lebih relevan buat pembeli rumah komersial di Bekasi?
Angka 18,01 juta. Pembeli rumah dua lantai di rentang Rp 700 jutaan umumnya sudah punya tempat tinggal dan sedang pindah ke unit yang lebih layak, jadi posisinya ada di backlog kualitas — bukan di backlog kepemilikan yang jalurnya diarahkan ke rumah subsidi.
Sumber angka: rilis Statistik Perumahan 2026 oleh BPS bersama Kementerian PKP, 13 Agustus 2026, sebagaimana dikutip Kompas dan ANTARA.
Sedang pindah dari rumah yang sudah kesempitan?
Tim Kingspoint bisa kirim daftar unit Emerald 70 yang ready stock di Jl. Raya Perjuangan, Bekasi Utara, lengkap dengan luas tanah, luas bangunan, dan skema KPR komersialnya.
Chat WhatsApp Sekarang